Kamis, 24 Agustus 2017

Doni Tata Kibarkan Metah Putih di Jepang Tanpa Bantuan Pemerintah


SEMARANG - Doni Tata Pradita, nama ini sangat familiar di telinga pecinta balap tanah air. Bersama Rafid Topan Sucipto, Doni, sapaan akrabnya, pernah berlaga mewakili Indonesia di Moto GP kelas Moto 2.

Moto 2 merupakan kelas menengah sebelum naik ke kasta tertinggi balap dunia, Moto GP.

Doni bergabung dalam tim Federal Oil Gresini Moto2 sedangkan Rafid Topan membela tim QMMF.

Baru baru ini Doni mengharumkan nama Indonesia di kancah balap dunia.

Ajang prestisius balap ketahanan motor Suzuka 4 Hours, Doni mengibarkan bendera merah putih.

Dia berhasil podium dua bersama tandemnya pembalap Jepang.

Bergabung bersama tim Jepang, Akeno Speed Yamaha, Doni mampu bersaing dengan pembalap yang membela tim pabrikan Yamaha, Suzuki dan Honda.

Bahkan lajang kelahiran Yogyakarta 26 tahun silam ini sempat memimpin lomba hingga lima lap terakhir sebelum disalip pembalap pabrikan Yamaha dari Thailand.

Kisah heroik Doni mengibarkan bendera Merah Putih di Jepang diceritakan kepada Tribun Jateng, Rabu (23/8/2017) malam.

Sebelum ikut kejuaraan, Doni mengaku hampir tiga tahun tak menunggangi motor berkapasitas besar.

"Waktu di Suzuka 4 Hours Doni pakai Yamaha R6 dari tim Akeno Speed Yamaha. Awalnya kaku, hampir tiga tahun tidak balap pakai motor besar," kata Doni baru baru ini.

Sesi latihan satu dan dua Doni belum mendapatkan feel menggeber motor berkapasitas 600 cc itu. Bahkan ia sempat takut untuk menyalip pembalap yang ada di depannya.

"Dapat feel bagus saat kualifikasi. Dari catatan waktu saat latihan satu dan dua, di kuakifikasi waktunya bisa terpangkas tiga detik," katanya.

Cobaan tak sampai disitu, saat Doni dan pembalap lainnya sudah di garis star, hujan turun membasahi sirkuit Suzuka.

Para pembalap dan motornya kembali ke pit. Disinilah strategi tim mulai berjalan. Saat tim lain mengganti ban basah, Doni tetap menggunakan ban kering.

Lap lap awal terseok karena lintasan basah, Doni tetap bertahan dan mencoba tidak terjatuh meski dia sempat diover lap oleh pembalap lain.

Strategi jitu, 30 menit lomba berjalan, Doni mulai merangsek naik hingga urutan kedua.

"Waktu masuk pit penggantian pembalap pun cuma ganti pembalap dan isi bahan bakar sementara pembalap lain yang tadi pakai ban basah butuh waktu lama ganti ban kering," katanya.

Posisi kedua ini bertahan hingga akhirnya Doni kembali masuk lintasan menggantikan tandemnya. Doni merangsek naik ke posisi pertama setelah itu.

"Lima lap terakhir Doni disalip sama pembalap Thailand dari tim pabrikan Yamaha. Waktu itu Doni tidak sadar kalau memimpin klasemen, bahkan tidak tahu kalau itu lima lap terakhir."

"Menjelang finish barulah Doni tahu kalau sudah lap terakhir dan tadi sempat memimpin. Harusnya Doni bisa menang,"ujarnya.

Mengibarkan bendera pusaka dan mengharumkan nama Indonesia rupanya Doni tak disokong oleh pemerintah ataupun sponsor dari BUMN.

Doni mencari bantuan dana dari koleganya dan beberapa sponsor swasta yang membiayai akomodasi Doni selama di Jepang.

"Akomodasi ada sponsor yang patungan, untuk baju balap Doni juga ada yang bantu. Bayar lisensi balap internasional dan tiket pesawat juga Doni bayar sendiri," kata pria yang sedang fokus mempersiapkan diri du Kejurnas Supermoto pada 9-10 September 2017 di Bantul.

Tanpa bantuan dari pemerintah, Doni mampu membuktikan diri menjadi pembalap Indonesia terbaik diajang tahunan tersebut.

Saat disinggung apakah dia kangen balapan di kejuaraan dunia, Doni nampak semangat. Dia mengaku saat ini masih berusaha mencari tim dan sponsor untuk berlaga kembali di kejuaraan dunia Moto2.

"Jelas kangen, sekarang masih cari tim dan sponsor. Kejuaraan dunia tempat berkumpulnya pembalap hebat dari seluruh dunia, tidak semua pembalap bisa memiliki kesempatan berada di sana. Podium dua di Suzuka 4 Hours yang Doni dapatkan tanpa persiapan matang menjadi bukti Doni masih bisa membuktikan diri," katanya.

Dia berpesan kepada pembalap muda Indonesia yang sekarang berlaga di kejuraan Asia dan Eropa agar memanfaatkan kesempata itu sebaik baiknya.

"Berlatih 100 persen, jangan mudah puas atas pencapaian. Yang paling penting harus serius dan bekerja keras," kata Doni.

Sumber: tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Laman

Entri yang Diunggulkan

Michelin Siapkan Ban Khusus